Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian: Masih Layak Sandang Gelar Ultra?

# Apakah layak beli? Simak review Samsung S26 Ultra setelah sebulan pemakaian. Kupas tuntas fitur Galaxy AI, daya tahan baterai, dan nasib S Pen ke depannya.

Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian perbandingan Benchmark (1)
Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian: Masih Layak Sandang Gelar Ultra? 6

InvoTrenz – Halo sobat tech-savvy, kembali lagi bersama gue Mahesa F yang baru saja kelar bertapa sebulan penuh bareng monster baru dari Korea Selatan. Yap, gue sudah menghajar habis-habisan Samsung Galaxy S26 Ultra ini selama lebih dari 30 hari sebagai gawai utama andalan gue. Mulai dari main gim kelas berat, maraton nonton anime, sampai mengurus segala tetek bengek konten InvoTrenz, semua beban kerja gue lempar ke perangkat ini.

Kalau kita nostalgia sedikit ke tahun 2020, S20 Ultra pertama kali rilis dengan spesifikasi gila seperti kamera 108 megapiksel dan baterai raksasa. Gawai pendahulu itu benar-benar menjeritkan kata inovasi berkat lompatan spesifikasi yang sangat brutal dan berani di zamannya. Sayangnya, sejak masa kejayaan tersebut gue merasa lini Ultra dari Samsung perlahan-lahan mulai kehilangan nilai magisnya yang bikin merinding.

Seri-seri pendahulunya belakangan cuma sibuk merombak desain bingkai atau menurunkan kemampuan lensa telefoto tanpa dobrakan fitur yang bikin rahang jatuh. Makanya lewat pengujian sebulan penuh ini, gue penasaran banget apakah S26 Ultra bisa menebus dosa dan mengembalikan kejayaan nama besar tersebut. Ternyata secara umum perubahannya memang masih terasa main aman, tetapi ada beberapa senjata rahasia gila yang membuatnya pantas ditakuti lagi.

Lima Keunggulan Utama

Perjalanan berlanjut ke S23 Ultra yang memperkenalkan sensor 200 megapiksel, di mana sensor ini masih kita pakai sampai detik ini. Kemudian S24 Ultra malah menurunkan kemampuan zoom 10x menjadi 5x, meskipun mereka menebusnya dengan menyisipkan fitur kecerdasan buatan. Seri S25 Ultra juga cuma menaikkan resolusi kamera Ultra menjadi 50 megapiksel dengan mengadopsi desain bingkai yang serba rata.

Jujur saja, setelah inovasi gila-gilaan di lini S20, kita belum melihat lagi dobrakan super ekstrem yang mendobrak batas dari Samsung. Makanya gue penasaran banget dan langsung menjadikan S26 Ultra ini sebagai ponsel harian gue selama sebulan terakhir. Ternyata secara umum ini adalah peningkatan yang main aman, tetapi ada beberapa fitur pembeda yang membuatnya kembali layak menyandang gelar Ultra.

Di ulasan kali ini, gue bakal bongkar lima hal yang bikin HP ini kembali ganas, plus dua hal yang bikin gue agak kecewa. Tentu saja sebagai reviewer veteran, gue selalu membandingkan kemampuannya lewat daftar 5 Smartphone Flagship Terbaik dengan Layar Super Cerdas di pasaran saat ini. Mari kita mulai dari racikan rahasia pertama yang dibawa oleh sang suksesor S26 Ultra ini.

Layar Privasi Inovatif

Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian layar privasi
Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian: Masih Layak Sandang Gelar Ultra? 7

Fitur pertama yang bikin gue tercengang adalah layar privasinya yang menurut gue merupakan salah satu inovasi paling brilian dalam beberapa tahun terakhir. Level inovasinya sudah setara dengan gebrakan modul 108 megapiksel atau zoom optik 10x di masa kejayaan S20 Ultra. Secara teknis, sistem canggih ini bisa mematikan sub-piksel layar yang digunakan untuk sudut pandang lebar secara instan kapanpun kita mau.

Hasilnya, kalian seolah punya pelindung layar privasi fisik bawaan yang bisa dinyalakan atau dimatikan semudah membalikkan telapak tangan. Fitur ini bekerja sangat luar biasa di dunia nyata dengan dua mode utama, yaitu mode normal dan mode maksimal. Mode normal memberikan efek redup saat dilihat dari sudut samping, yang ternyata bekerja sempurna secara vertikal maupun horizontal.

Menariknya, fungsi pintar ini jauh lebih sakti daripada pelindung layar fisik yang biasa menempel di iPhone andalan gue. Namun, pada unit ulasan gue dan unit lainnya di luaran sana, mode ini tidak membuat layar segelap versi demonya jika level kecerahan terlalu tinggi. Sementara itu, mode maksimal sukses membuat layar gelap total dan tidak bisa diintip sama sekali oleh orang di sebelah kita.

Sayangnya, mode maksimal ini menuntut harga mahal karena kualitas warna dan kontras layarnya akan menurun sangat drastis. Trik andalan gue adalah mengatur fungsi ini secara spesifik agar otomatis aktif saat membuka aplikasi perbankan, pengelola kata sandi, atau email rahasia. Buat kalian yang ingin tahu detail pengaturannya, langsung saja sontek Panduan Lengkap Mengatur Layar Privasi di HP Samsung yang sudah gue tulis sebelumnya.

Dengan manajemen per aplikasi, gue bisa mengamankan privasi saat butuh dan menikmati kualitas visual maksimal saat tidak sedang membuka rahasia. Secara keseluruhan, fitur eksklusif yang tak dimiliki merek lain ini benar-benar mengembalikan esensi sejati dari sebuah ponsel kelas atas. Buat kalian yang mau mengeksplorasi lebih jauh rahasia lain di gawai ini, pastikan juga kalian cek artikel Fitur Tersembunyi Samsung S26 Ultra yang Wajib Kamu Coba! biar nggak ada fitur gahar yang terlewat.

Performa Super Mulus

Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian perbandingan Benchmark
Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian: Masih Layak Sandang Gelar Ultra? 8

Hal kedua yang bikin embel-embel Ultra ini kembali sah disematkan adalah sektor performanya yang super ngebut tanpa kompromi. S26 Ultra sejauh ini adalah ponsel paling mulus dan responsif yang pernah gue siksa selama bertahun-tahun menguji gadget. HP ini terasa jauh lebih cair dan organik pergerakannya jika dibandingkan dengan iPhone 17 Pro Max yang gue pakai sebelumnya.

Rahasia dapur pacu monster ini terletak pada kepingan chipsetSnapdragon 8 Elite Gen 5 khusus Galaxy yang menjadi otak utamanya. Dapur pacu ini sukses menjadikannya perangkat Android paling perkasa di pasaran, nyaris identik dengan iPhone 17 Pro Max dalam hal performa mentah. Biar performa monsternya ini makin maksimal di tangan kalian, gue sudah merangkum tips jitunya di Cara Kustomisasi Samsung Galaxy S26 Jadi Super Ngebut & Keren.

Samsung juga tidak pelit dengan menanamkan ruang pendingin uap raksasa untuk menekan suhu dan menjaga agar performanya tidak gampang loyo. Segala aplikasi berat yang gue lempar ke HP ini dieksekusi dalam sekejap tanpa ada waktu tunggu yang menyebalkan. Semua aplikasi terbuka sangat kilat dan tetap tersimpan utuh di latar belakang selamanya tanpa pernah memuat ulang. Gue sama sekali tidak pernah menemukan gejala lag atau freeze, sesuatu yang jujur saja lumayan sering menimpa iPhone gue belakangan ini.

Sebagai informasi, unit yang gue hajar ini merupakan varian memori penyimpanan paling dasar yaitu 256 GB. Varian tertingginya yang 1 TB memang dibekali RAM 16 GB, bukan 12 GB seperti milik gue yang sedang kalian baca ulasannya ini. Namun manajemen RAM sistem ini sangat jempolan sehingga gue merasa kalian tidak akan butuh tambahan kapasitas RAM tersebut.

Sponsor dan Aksesoris Pilihan

Sebelum kita bahas poin ngeri soal baterai, gue mau kasih penghormatan khusus buat Spigen yang sudah jadi sponsor andalan ulasan kita kali ini. Mereka punya ekosistem aksesoris luar biasa untuk S26 Ultra, mulai dari casing, dompet magnetik, charger, sampai pelindung layar berstandar SMAP. Gue pribadi selalu jatuh cinta dengan kombinasi elegan dari casing Ultra Hybrid MacFit 01 dan Neo1 buatan mereka.

Semua lini casing Spigen ini sudah tertanam teknologi MacFit sehingga bisa menempel kuat dengan aksesoris dompet Valentina mereka. Rangkaian pengisi daya magnetik mereka juga bekerja tanpa ada drama dan sangat memuaskan untuk pemakaian brutal sehari-hari. Jika kalian butuh bongkaran lebih dalam soal ekosistem ini, segera baca artikel Ulasan Mendalam Aksesoris Spigen untuk Lini Galaxy Ultra di blog kita.

Aksesoris paling sakit jiwa menurut gue adalah charger nirkabel Spigen Magnet 3-in-1 yang punya mekanisme tombol mekanis super canggih. Kalian bisa menekan tombolnya untuk mengeluarkan area pengisian daya jam tangan atau earbuds secara paktis bagaikan gadget agen rahasia. Charger ajaib ini bahkan bisa merotasi otomatis HP kalian sambil memberikan hembusan pendinginan aktif lewat kipas internalnya.

Urusan menempelkan pelindung layar juga berubah jadi hal sepele berkat kemudahan sistem Glass TR Easy Fit Pro mereka. Spigen juga sangat teliti dengan menghadirkan Easy Fit Optic Probe untuk memastikan lensa kamera Ultra kalian aman dari goresan kasar. Silahkan manfaatkan tautan di deskripsi bawah jika kalian ingin segera meminang pelindung kelas atas untuk HP kesayangan kalian.

Daya Tahan Baterai dan Pengisian Cepat

Hal ketiga yang sukses mempertahankan harga diri perangkat ini adalah ketahanan baterai serta kecepatan pengisian dayanya yang makin matang. Dalam siksaan pemakaian harian gue, baterainya sanggup bertahan satu setengah hingga dua hari penuh tanpa perlu pusing cari colokan. Angka ini sedikit lebih sakti dari S25 Ultra, padahal ia masih membawa sel baterai 5000 mAh yang sama persis sejak zaman S20 Ultra.

Material baterainya memang belum beralih ke teknologi silikon karbon canggih yang marak dipakai oleh para raksasa HP asal Tiongkok. Opini gue, ini sangat mungkin disebabkan oleh masalah skala pasokan karena volume penjualan Samsung luar biasa masif dibandingkan kompetitornya. Semua keawetan energi ini adalah hasil keringat optimasi perangkat lunak tingkat dewa yang digarap bareng oleh Samsung dan Qualcomm.

Kabar sangat membahagiakan akhirnya tiba dari sektor kecepatan pengisian daya yang mendapat lonjakan sangat dibutuhkan. Kita kini bisa mengisi daya baterai raksasa ini dari posisi kosong sampai penuh hanya dalam waktu 40 hingga 50 menit saja. Bahkan jika kalian buru-buru, colok kabel 20 menit saja sudah bisa mendorong indikator baterai ke angka 65%.

Sebagai gambaran kerasnya persaingan, iPhone 17 Pro Max hanya mampu merangkak ke angka 45% dalam durasi colok 20 menit. Sementara OnePlus 15 yang jadi legenda pengisian cepat sanggup menyentuh kapasitas 55% di rentang waktu yang sama persis. Sebuah eksekusi teknik yang sangat patut diacungi jempol untuk tim insinyur di kubu Samsung tahun ini.

Kecerdasan Buatan Galaxy AI

Faktor keempat yang mengukuhkan takhta S26 Ultra sebagai ponsel pintar sesungguhnya adalah paket komplit Galaxy AI. Memang benar di luar sana banyak HP yang pamer teknologi AI, tetapi paket milik Samsung ini jelas yang paling utuh dan berbobot. Fitur Photo Assist sekarang makin pintar karena bisa memahami deskripsi teks untuk kebutuhan edit gambar secara presisi memakai bantuan S Pen.

Bukan cuma itu, kehadiran fitur Creative Studio juga sangat adiktif untuk membuat kreasi gambar bergaya khusus pas lagi santai. Gue juga sangat diselamatkan oleh kemampuan transkripsi dari Samsung Notes selama mengikuti serangkaian jadwal padat di ajang MWC 2026. Biar alur kerja kalian makin kilat, jangan lupa pelajari Cara Memaksimalkan Penggunaan Galaxy AI untuk Produktivitas yang sudah gue susun rapi.

Gue biarkan HP ini merekam berbagai obrolan sesi secara live, melakukan transkripsi otomatis, dan merangkum intisarinya sekaligus dalam satu waktu. Otak AI ini bahkan sanggup memilah suara masing-masing narasumber dengan tepat, sebuah tugas berat yang Apple sama sekali tidak mampu tangani. Ke depannya juga bakal ada fitur Agentic AI yang dijanjikan mampu mengambil alih kontrol HP untuk berbagai tugas otomatis, meski fitur ini belum rilis.

Secara keseluruhan, asisten cerdas buatan yang ada di dalam gawai ini adalah pendamping mobilitas yang paling fungsional buat ritme kerja gue. Kehadiran AI yang terjalin erat ke dalam inti sistem Android benar-benar mampu memangkas waktu kerja secara signifikan. Biar pengalaman navigasi antar-menu dan fiturnya makin paripurna, pastikan kalian juga sudah baca [15 Fitur Keren One UI 8.5 Samsung yang Wajib Kamu Tahu!] biar nggak kudet!

Desain Ergonomis dan Nyaman

Alasan pamungkas kelima yang menyempurnakan nama Ultra ini adalah sensasi genggamannya yang sungguh tiada tanding. Gue sudah menghajar dan mengulas nyaris semua ponsel flagship yang ada di bumi ini, dan S26 Ultra mutlak menjadi yang paling nyaman di telapak tangan. Bodinya dipangkas super tipis ke angka 7,9 milimeter saja, membuatnya terasa lebih ramping dari S25 Ultra yang tebalnya 8,2 milimeter.

Jika dijejerkan dengan rival Amerikanya, ia juga menang telak karena iPhone 17 Pro Max masih bengkak di angka 8,75 milimeter. Ia bahkan berhasil tampil lebih langsing ketimbang sang penantang dari Tiongkok, Xiaomi 17 Ultra, yang memiliki profil ketebalan 8,3 milimeter. Penempatan modul kamera di sudut bodi ini jadi langkah jenius karena gue bisa merebahkan jari di belakang tanpa tersandung apapun.

Kenyamanan surgawi ini mustahil gue rasakan saat memakai HP kelas atas OPPO atau Xiaomi karena modul kamera raksasa mereka sangat menghalangi jari. Belum lagi urusan distribusi bobotnya, S26 Ultra sukses menjaga keseimbangan sempurna di setiap sudut sehingga enak diputar-putar. Berbeda nasib dengan iPhone 17 Pro Max yang terasa jomplang berat di atas hingga sempat merosot jatuh dari tangan gue beberapa kali.

Kekurangan yang Perlu Diperhatikan

Meski sejauh ini terdengar fantastis, tidak ada satu pun gawai yang diciptakan tanpa dosa cacat di muka bumi ini. Kenyataannya, gue mencatat ada tiga sektor penting di mana Samsung harus sangat serius membenahi diri mereka jika tak mau digerus pesaing. Namun sebelum gue marah-marah di bagian kekurangan ini, gue wajib merekomendasikan mahakarya paket kustomisasi Verden Valley Spack racikan Wall Rod.

Karya seni digital tersebut menyajikan palet warna memanjakan mata serta ketajaman resolusi 8K yang dijamin bikin layar gawai kalian naik kelas. Ada pula paket visual Flashy Flares garapan Splashy yang menyuguhkan gaya jilatan api minimalis nan cerah untuk menghiasi ruang layar. Kalian bisa memborong semuanya secara cuma-cuma lewat aplikasi wallpaper iOS dan Android melalui tautan rahasia di bawah nanti. Nah, kalau wallpaper sudah keren, sempurnakan juga tampilan antarmukanya lewat panduan Cara kustom HP Samsung Pakai Good Lock Biar Makin Kece.

Evaluasi Sektor Kamera

Bongkaran area pertama yang sukses bikin gue ngelus dada ada di departemen kamera utamanya yang stagnan. Tolong dicatat, gue tidak bilang kualitas kameranya ampas, hanya saja insinyur mereka kelewat santai dan minim inovasi perangkat keras. Sensor utamanya ternyata masih memakai barang rongsokan yang sama persis seperti yang menempel di bodi S23 Ultra dari empat tahun silam.

Satu-satunya polesan minor yang mereka berikan hanyalah bukaan lensa atau aperture yang kini menjadi f1.4, sedikit melebar dari f1.7. Apakah manipulasi angka ini benar-benar terasa dampaknya di dunia nyata? Sayangnya untuk foto lanskap siang hari, perbedaannya nyaris tak terendus selain beberapa jepretan di S26 Ultra sesekali tampak lebih terang secuil.

Dampak perbedaan lensa ini baru mulai tercium ketika kita membahas urusan efek kedalaman ruang atau sering disebut depth of field. Pemisahan latar belakang di S26 Ultra sukses memamerkan porsi blur atau bokeh yang sedikit lebih pekat jika diadu langsung dengan bidikan S25 Ultra. Pada pengujian ekstrem dengan daun, tingkat keburaman latar belakang serta tanah di belakang objek terekam jauh lebih pekat dan membaur estetik.

Bergeser ke pengujian malam hari, barulah gue bisa bernapas lega karena ada perbaikan detail gambar yang cukup kasat mata. Saat menembak pohon di malam hari, tekstur dedaunan sisi kanan terekam lebih jelas di S26 Ultra, bahkan guratan rerumputan bawahnya masih bisa dikenali. Namun pada mayoritas uji coba gelap lainnya, gue setengah mati mencari celah perbedaan kualitas dari kedua generasi HP beda tahun ini.

Ada kalanya pada kasus foto bunga di jarak lumayan dekat, S25 Ultra justru secara mengejutkan menang dalam menyajikan detail jernih di area depan. Lompatan terbesar untuk kondisi minim cahaya ini malah bersembunyi di dalam mode perekaman videonya. Hasil video malam HP S26 Ultra ini tampil lebih benderang dan sangat bersih dari gangguan rintik noise yang merusak visual.

Meskipun begitu, ketertinggalan Samsung akan langsung terpampang nyata jika hasil jepretannya disandingkan berdampingan dengan Xiaomi 17 Ultra atau iPhone 17 Pro Max. Detail perbandingan brutalnya sudah gue bedah tuntas di artikel panas [Samsung S26 Ultra vs iPhone 17 Pro Max] yang lagi ramai dibaca. Barisan ponsel pabrikan Tiongkok ini masih menguasai kasta tertinggi karena memakai sensor optik raksasa 1 inci yang belum sanggup dibendung oleh teknologi Samsung.

Singkat cerita, margin perbaikan kualitas fotografi dari S25 Ultra ke generasi terbaru ini terasa sangat pelit. Sementara itu, jurang pemisah kualitas antara kamera Samsung dan lawan beratnya di luar sana justru semakin lebar mengerikan. Ini adalah PR raksasa yang tidak bisa ditunda lagi dan harus segera diberantas pada generasi Ultra berikutnya.

Perbandingan Lensa Telefoto

Lalu bagaimana kabar lensa khusus bidikan jarak jauhnya di tahun ini? Merujuk pada spesifikasi keras, modul telefoto milik Samsung sebenarnya masih sangat mumpuni untuk meladeni kemampuan jarak jauh iPhone. Sayangnya, mereka babak belur dipecundangi oleh kompetitor dari Tiongkok yang brutal menanamkan sensor periskop 200 megapiksel di mana sebagian lensanya bahkan bisa bergerak secara fisik.

Fakta pahitnya, singgasana raja telefoto sudah bukan mutlak milik Samsung lagi saat ini. Tetapi jika kita batasi pertarungannya hanya dengan S25 Ultra, S26 Ultra jelas menang berkat penggunaan bukaan aperture yang lebih lebar dari f3.4 menjadi f2.9. Bukaan diafragma yang lebih melonggar ini ternyata menelurkan efek yang sangat manis dan bisa diandalkan.

Berkat itu, porsi blur latar belakang yang kita dapatkan jauh lebih dramatis dan pekat ketimbang kemampuan S25 Ultra tahun lalu. Karakteristik ini paling bersinar terang saat kalian rajin memanfaatkan mode portrait untuk mengabadikan objek manusia dari jarak jauh. Deteksi pemisahan batas subjeknya bekerja jauh lebih mulus dan natural dalam membekukan momen artistik.

Berdasarkan hasil jajak pendapat kami, mayoritas responden setuju bahwa jepretan telefoto malam HP ini lebih terang, tajam, dan steril dari noise kotor. Peningkatan visual ini secara otomatis juga berlaku manis untuk perekaman video telefoto pada malam hari. Kesimpulan bulat gue, pembaruan pada racikan perangkat keras telefoto utamanya ini merupakan suntikan peningkatan yang solid.

Modul Kamera Tambahan

Temuan gembira lainnya adalah kualitas zoom sangat jauh di bawah sinar matahari kini terlihat jauh lebih bersih tanpa noda. Insting gue sangat yakin bahwa kebersihan gambar ini adalah buah kerja keras perubahan racikan di sektor pemrosesan gambar atau image processing. Polesan peranti lunak ini sukses mencetak bidikan telefoto yang memanjakan mata khusus untuk pemakai setia S26 Ultra.

Sayangnya, kabar buruk datang menerpa modul zoom jarak 3x yang ternyata mendapat rombakan fisik bernuansa kemunduran. Bukannya ditingkatkan, Samsung malah menyusutkan ukuran fisik sensornya menjadi lebih kerdil dari versi jadul, dan kualitas rendahnya langsung tercium jelas. Kinerja kamera 3x di kondisi redup menjadi sangat menyedihkan dan penuh noise, padahal reputasi awalnya saja sudah memprihatinkan.

Gue tidak habis pikir dan menduga Samsung hanya tega mempertahankan bulatan lensa 3x ini semata demi simetri desain bodi punggungnya saja. Lensa malang ini sukses dikukuhkan sebagai modul kamera terburuk yang dimensinya bahkan lebih kecil dari sensor kamera depan yang spesifikasinya juga mandek. Mengabaikan duka lara tersebut, gue masih punya dua fitur perangkat lunak kamera canggih yang wajib gue sebutkan.

Sihir pertama adalah fitur kunci horizontal, di mana ia akan menjaga komposisi rekaman tetap stabil di tengah meski HP kalian sengaja diputar berantakan. Senjata ajaib ini paling pas kalian manfaatkan untuk mengabadikan pergerakan liar di dunia olahraga ekstrem seperti atraksi bermain ski. Sihir kedua adalah kemunculan mode rekam APV yang performanya diposisikan untuk bersaing sejajar dengan kualitas ProRes di ekosistem Apple.

Format monster APV ini sanggup menelan detail gambar dalam taraf gila-gilaan, namun siap-siap saja memori penyimpanan kalian amblas tersedot kilat. Kemampuan S26 Ultra untuk mengeksekusi rekaman beresolusi 8K juga menjadi ejekan telak bagi produk Apple yang belum sanggup melakukan hal serupa. Kalau kalian panik kehabisan memori internal yang tipis, sistem ini mengizinkan perekaman video ditransfer mentah-mentah ke drive SSD eksternal.

Penurunan Kualitas Layar

Dosa besar kedua yang wajib dipertanggungjawabkan Samsung terletak pada penurunan kasta visual layar utamanya. Santai dulu, jangan keburu lempar gawai karena sebelumnya gue sempat menyebut layarnya sangat inovatif dan mengagumkan. Layar ini memang jawara secara fitur privasi, namun jika ditelanjangi aspek teknis kecerlangannya, S26 Ultra resmi mengalami kemunduran atau downgrade dari leluhurnya S25 Ultra.

Tingkat ketajaman panel layar ini akan terlihat melunak manakala layar pelindung privasi bawaannya diaktifkan. Anjloknya ketajaman ini sebenarnya sangat rasional sebab mesin memang dirancang untuk mematikan porsi sub-piksel di layarnya. Musibah sebenarnya baru terjadi karena karakter sudut pandang bawaan layar S26 Ultra ini juga terasa lebih sempit dan redup dibanding generasi terdahulu.

Ironisnya, saat mode pengaman privasinya ditidurkan total pun, tingkat kecerahan maksimal dari pendaran cahayanya juga terasa dipangkas. Lapisan pelindung anti-reflektif racikan Samsung di atas kacanya juga gagal menunjukkan sihir penangkal silau sehebat yang pernah ada di layar S25 Ultra. Kesimpulan pedasnya, jika kalian masa bodoh dengan fitur rahasia anti-intip tadi, maka kualitas visual S26 Ultra sebetulnya kalah telak di bawah sang kakak.

Kompromi konyol di sektor paling vital ini jelas bukan skenario yang bisa diterima lapang dada untuk perangkat berbanderol belasan juta. Sebagai kritikus, gue menaruh asa yang sangat tinggi agar lahirnya layar privasi generasi kedua kelak mampu menebus dosa kompromi di sektor visual ini. Kelemahan perdana pada pelopor teknologi generasi pertama ini mutlak harus dibantai habis oleh Samsung secepatnya.

Nasib S Pen ke Depan

Sektor terakhir yang bikin gue geleng-geleng kepala dan butuh perbaikan total adalah nasib dari batang pena pintar, S Pen. Sebagai jurnalis teknologi yang sibuk, gue blak-blakan mengaku kalau gue hampir tak pernah repot-repot mencabut stylus kurus ini dari cangkangnya. Mirisnya, bagi para seniman atau loyalis yang rutin memakainya, fungsionalitas S Pen ini nyatanya rutin dikebiri semakin parah tiap tahunnya.

Tahun lalu saja, mereka dengan tega mencabut total urat nadi konektivitas Bluetooth dari pena mungil tersebut. Imbasnya, kita dipaksa merelakan hilangnya fitur pengatur rana jarak jauh serta fitur membaca gestur udara yang dulu sempat jadi jualan utama. Musim ini, mereka kembali membuat batang S Pen ini makin kerempeng hingga rentan patah seperti yang diperlihatkan di pengujian ekstrem JerryRigEverything.

Lebih menyebalkan lagi, bagian ujung pantat stylusnya sekarang wajib menyesuaikan lengkungan bingkai ponsel yang kaku. Perubahan bodoh ini artinya kalian tidak bisa lagi asal colok dan harus sangat teliti memastikan orientasinya pas sebelum didorong masuk. Kalau disuruh ngasih opini panas, gue bakal bersorak kalau Samsung akhirnya meralat tradisi dan resmi membunuh eksistensi S Pen ini sekalian.

Ruangan kosong eks-S Pen tersebut bisa dialihfungsikan untuk menggendong kapasitas baterai yang jauh lebih monster ketimbang angka 5000 mAh yang mentok. Gue tahu opini radikal ini bakal mengundang sumpah serapah dari aliran keras penggemar lini Note dan S Pen Samsung di luar sana. Tapi kalau kita amati gelagatnya, umur S Pen sepertinya memang tinggal menghitung hari sebelum akhirnya masuk liang lahat.

Gue berani bertaruh kencang, jika S Pen lolos dari pemusnahan massal di S27 Ultra, ia sudah pasti akan dieksekusi mati di era S28 Ultra. Coba mampir dan corat-coret di bawah, apakah kalian termasuk manusia yang bakal meratapi kepergian sebatang pena digital andai Samsung benar-benar menghapusnya?

Kesimpulan Keseluruhan

Setelah puas menelanjangi setiap lekuk dan celah di HP ini selama tiga puluh hari, tiba saatnya menjatuhkan putusan pengadilan. Mempertimbangkan semua dosa dan kemuliaannya, gue rasa S26 Ultra pantas merebut kembali mahkota nama Ultra. Untuk pertama kalinya sejak rilis S21 Ultra, Samsung akhirnya menyuntikkan teknologi perangkat keras super unik yang tak bisa dikloning sembarangan oleh pabrik mana pun.

Kehadiran layar rahasia privasi tersebut benar-benar sebuah pemutarbalikkan keadaan yang mengubah peta persaingan gawai papan atas. Beranjak dari sana, gue sangat percaya diri mengklaimnya sebagai perangkat Android paling relevan untuk nyaris setiap kalangan masyarakat umum. Ponsel ini mampu menceklis setiap syarat kebutuhan gawai dengan sempurna meski tidak memegang rekor juara satu di semua disiplin uji.

Sang monster sukses memberikan pondasi kokoh paket super lengkap yang amat langka disajikan oleh para penantangnya di kasta yang sama. Jangan lupa berikan opini beracun atau pujian kalian terkait ulasan kali ini di bawah, sekaligus luangkan waktu menyimak adu jepretan ketiga gawai penguasa di perbandingan kamera S26 Ultra melawan klan iPhone 17 Pro Max dan Xiaomi 17 Ultra. Kalian juga wajib menyedot aplikasi kami demi memasang deretan desain wallpaper artistik kelas dewa bervisual 8K menawan.

Gue Mahesa F, tech-reviewer kalian yang anti basa-basi dan siap membongkar gadget sampai ke dalam silikonnya. Ini adalah ulasan dari lini Tech kita dan gue tak sabar menyapa di sesi bedah inovasi berikutnya. Zen of Tech pamit mematikan kamera!

Ringkasan Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian

Ringkasan Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian Masih Layak Sandang Gelar Ultra
Review Samsung S26 Ultra Setelah Sebulan Pemakaian: Masih Layak Sandang Gelar Ultra? 9
  • S26 Ultra membawa inovasi besar lewat layar privasi bawaan (normal & max mode), mengembalikan DNA sejati seri Ultra.
  • Performa diklaim sangat mulus (bahkan melebihi iPhone 17 Pro Max) berkat sokongan Snapdragon 8 Gen 5 khusus Galaxy.
  • Baterai 5000 mAh tetap awet (1,5 – 2 hari) dengan dukungan pengisian daya 100% dalam 40-50 menit.
  • Desain super ramping di angka 7,9 mm dan bobot seimbang, sangat ergonomis dan lebih tipis dari rival utamanya.
  • Lensa telefoto f2.9 dan pemrosesan gambar baru bawa peningkatkan signifikan, tapi modul 3x justru mengalami penurunan kualitas parah.
  • Terdapat “downgrade” kecil di sektor layar (sudut pandang lebih redup, lapisan anti-reflektif kurang efektif) sebagai konsekuensi fitur layar privasi.
  • Fungsi dan desain S Pen semakin tidak dianakemaskan, berpotensi dihilangkan pada generasi mendatang untuk ruang baterai ekstra.

🗣️ Masih lapar ulasan gadget ekstrem lainnya? Ayo ubek-ubek artikel bongkaran teknologi brutal lainnya dari Mahesa F hanya di situs web InvoTrenz. Jangan biarkan otak tech-savvy kamu berhenti asupan gizi hari ini!

🔔 Jangan sampai ketinggalan drama dan pertempuran inovasi teknologi terkini! Follow, Like, dan nyalakan notifikasi di seluruh kanal sosial media InvoTrenz agar kamu jadi yang pertama tahu setiap ada kelemahan gadget baru yang kami bongkar.

Disclaimer: Tulisan ini murni merupakan ulasan independen, opini personal, dan hasil pengujian lapangan dari Mahesa F. Kinerja perangkat dapat bervariasi bergantung pada skenario pemakaian, pembaruan perangkat lunak sistem, hingga kesehatan baterai di masing-masing pengguna. InvoTrenz tidak berafiliasi secara eksklusif dengan merek yang disebutkan selain sponsor yang secara eksplisit dicantumkan.